Beranda Artikel Tata Cara Umroh Lengkap Sesuai Sunnah: Panduan Step-by-Step dari Miqat hingga Tahallul

Tata Cara Umroh Lengkap Sesuai Sunnah: Panduan Step-by-Step dari Miqat hingga Tahallul

Tata Cara Umroh Lengkap Sesuai Sunnah (Madzhab Syafi'i) | Hana Tours



Membayangkan berangkat umroh ke Baitullah adalah keberkahan besar bagi setiap Muslim. Namun kenyataannya, umroh adalah perjalanan ibadah yang membutuhkan persiapan matang — bukan hanya fisik dan logistik, tetapi juga pemahaman mendalam tentang setiap rangkaian ibadahnya. Nah idealnya, calon jemaah perlu memahami tata cara umroh lengkap sesuai sunnah sebelum berangkat ke Tanah Suci. Adapun hal ini tidak hanya membantu dalam pelaksanaan ibadah, tapi juga memastikan rangkaian umroh memenuhi syariat Islam.

Dan perlu kamu ketahui sebelumnya, sebagian detail dalam panduan umroh ini mengikuti pendapat mayoritas umat muslim di Indonesia (Mazhab Syafi’i). Terdapat perbedaan dalam beberapa hal seperti wudhu saat sa’i dan kondisi haid dengan madzhab-madzhab lainnya. Yuk simak panduan lengkap tata cara umroh lengkap madzhab Syaf’i mulai dari miqat hingga tahallul berikut ini.

Infografis tata cara umroh lengkap sesuai sunnah (madzhab Syafi'i)

Infografis tata cara umroh lengkap sesuai sunnah (madzhab Syafi’i).

Persiapan Sebelum Berihram

Tata cara umroh yang pertama akan kita mulai dari tahap persiapan ihram. Tahap persiapan ihram ini sering diremehkan, padahal paling menentukan kekhusyukan dalam seluruh rangkaian ibadah umroh. Pertanyaan seperti “apa sudah mandi ihram dengan benar?” atau “pakaian ihramnya sudah sesuai syariat belum?” sering baru disadari saat di miqat dan jadi sumber kepanikan selama ibadah. Supaya lebih fokus, berikut hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum berihram.

Jadwal Persiapan Fisik (H-1 Bulan hingga H-1 Hari)

Rangkaian ibadah umroh dan haji sangat menuntut stamina yang prima karena banyaknya aktivitas fisik yang dilakukan. Calon jemaah disarankan untuk mulai melakukan persiapan fisik sebelum berangkat, di antaranya:

Waktu Yang Harus Dilakukan Tujuan
1 bulan sebelum Latihan jalan kaki 3–5 km per hari Melatih stamina kaki untuk tawaf + sa’i (total 5–7 km)
2 minggu sebelum Vaksin meningitis (wajib) + polio (wajib 2026). Bawa kartu ICV dari SATUSEHAT. Syarat visa + perlindungan kesehatan
1 minggu sebelum Medical check-up bagi lansia atau yang punya riwayat penyakit kronis Memastikan kondisi aman untuk perjalanan jauh
H-3 Siapkan dan cek semua dokumen — paspor, visa, KTP, KK, kartu vaksin Menghindari panik di bandara
H-1 Potong kuku. Cukur bulu ketiak dan kemaluan (sunnah). Mandi bersih. Kebersihan tubuh sebelum memasuki ibadah suci
Malam sebelum berangkat Shalat tahajud + doa memohon kelancaran. Istirahat cukup. Persiapan spiritual dan fisik

Persiapan Perlengkapan yang Sering Terlupakan

Beberapa barang yang sering lupa dibawa saat umroh ini harus dicatat. Mulai masukkan barang-barang di bawah ini ke dalam tas umroh kamu.

Tabel perlengkapan umroh yang sering terlupakan

Tabel perlengkapan umroh yang sering terlupakan.

Catatan dokumen penting: Paspor minimal aktif 7 bulan dari tanggal kepulangan. Visa umroh diurus melalui travel resmi (PPIU).

Tahap 1: Ihram — Titik Awal Perjalanan Suci

Ihram bukan sekedar titik awal dari seluruh rangkaian, ihram adalah langkah pertama kesiapan fisik serta mental mulai diuji, serta menentu kualitas ibadah dari awal hingga akhir.

Apa itu Ihram?

Secara bahasa, ihram berasal dari akar kata:

أَحْرَمَ – يُحْرِمُ – إِحْرَامًا

Maknanya: “Masuk ke dalam sesuatu yang diharamkan / menjadikan sesuatu itu haram atas dirinya.”

Ibnu Manzur dalam kitab Lisanul Arab menuliskan definisi ihram secara bahasa:

وَأَحْرَمَ الرَّجُلُ: دَخَلَ فِي الْحُرْمَةِ

Maknanya: “Seseorang dikatakan berihram: ketika ia masuk ke dalam keadaan terlarang (hurmah)” — (Ibnu Manzur, Lisan al-Arab [Beirut: Dar Sadir, 1993 M], Juz 12, hlm. 120)

Sedangkan al-Fairuzabadi di dalam kitabnya, al-Qamus al-Muhit mendefinisikan ihram secara bahasa sebagai berikut:

أَحْرَمَ: دَخَلَ فِي الْحُرْمَةِ

Maknanya: “Masuk dalam kondisi yang memiliki larangan” — (al-Fairuzabadi, al-Qamus al-Muhit [Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2006 M], hlm. 1135)

Sedangkan secara syariat, ihram memiliki definisi:

وَالإِحْرَامُ: نِيَّةُ الدُّخُولِ فِي النُّسُكِ

Wal-iḥrāmu: niyyatu ad-dukhūli fī an-nusuk

Maknanya: “Ihram adalah niat untuk masuk ke dalam ibadah (haji atau umrah)” — (al-Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994 M], Juz 2, hlm. 211)

Jadi, ihram bukanlah sekedar pakaian, lebih dari itu, ihram adalah kondisi spiritual serta hukum yang menandai dimulainya ibadah umroh. Dimulai dengan membaca niat serta mengenakan pakaian khusus, lalu berakhir setelah tahallul. Adapun berlaku beberapa larangan tertentu selama berihram.

Persiapan Sebelum Ihram di Miqat

Di dalam tata cara umroh madzhab Syafi’i, mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik adalah hal yang sangat penting agar rangkaian ibadah berjalan dengan sesuai syariat, termasuk di antaranya adalah miqat. Berikut adalah persiapan sebelum ihram di miqat makani yang bisa kamu ikuti:

Mandi Sunnah Ihram

Di dalam madzhab Syafi’i, disunnahkan bagi seseorang yang akan berumroh untuk mandi sebelum berihram, sebagaimana membaca niat:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ سُنَّةَ الْإِحْرَامِ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla sunnatal ihrami lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat mandi sunnah ihram karena Allah Ta’ala.” — (Imam Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab [Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M], Juz 7, hlm. 197); (Syaikh Abu Bakr Syatha ad-Dimyathi, I’annah ath-Thalibin [Beirut: Dar al-Fikr, 1993 M], Juz 2, hlm. 313)

Mandi ihram dilakukan seperti mandi junub, membasuh seluruh tubuh secara merata. Lebih lanjut, wanita yang sedang haid atau nifas tetap dianjurkan mandi ihram meskipun belum dapat melaksanakan tawaf.

Mengenakan Pakaian Ihram

Ilustrasi cara melilitkan kain ihram pria

Ilustrasi cara melilitkan kain ihram pria.

Di dalam Islam, ada ketentuan khusus perihal aturan dalam mengenakan pakaian ihram untuk jemaah pria dan wanita. Berikut ketentuan pakian ihram tersebut:

Aspek Pria Wanita
Pakaian 2 lembar kain putih tanpa jahitan: (1) Izar — dililitkan dari pinggang ke bawah, (2) Rida — disampirkan di bahu Pakaian biasa menutup seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan
Warna Putih (dianjurkan sunnah, bukan keharusan) Boleh warna apa saja
Kepala Wajib terbuka — dilarang menutup kepala Kepala wajib tertutup dengan jilbab
Wajah Terbuka normal Wajah terbuka — dilarang cadar yang menempel langsung
Alas kaki Sandal yang tidak menutup punggung dan jari kaki Sandal biasa boleh
Wewangian Boleh di badan sebelum niat ihram, tidak boleh di kain ihram Tidak boleh memakai wewangian setelah berniat ihram

Shalat Sunnah 2 Rakaat Sebelum Ihram

Kamu bisa menunaikan shalat sunnah ihram 2 rakaat sebelum memakai ihram atau sesudah shalat fardhu. Pelaksanan shalat sunnah ihram terdiri dari dua rakaat.

Rakaat pertama: Al-Fatihah + Al-Kafirun. Rakaat kedua: Al-Fatihah + Al-Ikhlas. Jika sedang di pesawat, shalat sunnah ihram tetap bisa dilaksanakan dengan isyarat sambil menghadap kiblat jika memungkinkan.

Membaca Niat Ihram Umroh

Jemaah dapat membaca niat umroh saat memasuki ihram di miqat sebagai tanda dimulainya rangkaian ibadah. Lafadz dari niat umroh adalah sebagai berikut:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً

Labbaika Allahumma ‘umratan

Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan umroh.” — Niat ihram umroh (rukun pertama umroh) — (Imam Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab [Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M], Juz 7, hlm. 214); (Imam Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar al-Fikr, 1995 M], hlm. 52)

Sementara itu, terdapat juga niat yang lebih lengkap yang bisa diamalkan oleh para jemaah umroh, berikut bacaan niat umroh yang lengkap:

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitul ‘umrata wa ahramtu biha lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat melaksanakan umroh dan berihram karenanya untuk Allah Ta’ala.” — (Syaikh Abu Bakr Syatha ad-Dimyathi, I’annah ath-Thalibin [Beirut: Dar al-Fikr, 1993 M], Juz 2, hlm. 314); (Ibnu Hajr al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj [Beirut: Dar al-Fikr, 1994 M], Juz 4, hlm. 5)

Penting: Pelafalan niat wajibnya di dalam hati — dengan lisan sifatnya sunnah. Yang menentukan sah tidaknya adalah ada atau tidaknya niat di dalam hati.

Niat Isytirath (Opsional)

Sementara niat umroh merupakan inti dari ihram itu sendiri, niat isytirath menjadi opsional yang fungsinya adalah mengantisipasi apabila di tengah ibadah ada halangan (ihshar maupun udzur). Niat isytirath ini sangat dianjurkan bagi jemaah lansia, orang yang memiliki risiko tinggi (wanita hamil dan individu dengan komorbid/penyakit bawaan seperti jantung, diabetes, ginjal). Bagi jemaah yang ingin melafalkan niat isytirath, berikut bacaannya:

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

Allahumma mahilli haytsu habastani

Artinya: “Ya Allah, tempat tahallul-ku adalah di mana Engkau menahanku.” — (Imam Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab [Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M], Juz 7, hlm. 222); (Imam Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar al-Fikr, 1995 M], hlm. 58)

Untuk jemaah yang membaca niat isytirath, jika terjadi halangan seperti sakit, lansia yang lemah atau keadaan darurat seperti terhalang oleh musuh, maka diperbolehkan untuk ia bertahallul dan keluar dari ihram tanpa harus membayar dam terlebih dahulu ataupun mengulang umroh ataupun haji di tahun berikutnya.

Membaca Talbiyah

Talbiyah adalah kalimat dzikir yang diucapkan jemaah umroh/haji sebagai tanda memenuhi panggilan Allah SWT. Bacaan ini dibaca terus-menerus dari awal miqat hingga sebelum memulai tawaf.

لَلَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. Laa syarika lak.

Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanya milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.” — HR. Bukhari no. 1549 & Muslim no. 1184 — (Imam Nawawi, al-Adzkar [Beirut: Dar ibn Katsir, 2007 M], hlm. 177)

Sama seperti aturan berpakaian ihram, terdapat ketentuan yang mengatur tentang pelafalan kalimat talbiyah antara jemaah pria dan wanita. Berikut aturannya sesuai dengan ketentuan syariat:

Ketentuan Talbiyah Pria Wanita
Volume suara Keras (terdengar orang sekitar) — dianjurkan Pelan/lirih — cukup terdengar diri sendiri
Kapan dibaca Terus-menerus dari niat ihram hingga hendak memulai tawaf Sama dengan pria
Momen perbanyak Naik/turun kendaraan, bertemu rombongan, memasuki Mekkah, melihat Ka’bah Sama dengan pria

Tahap 2: Perjalanan dari Miqat Menuju Mekkah

Setelah berihram di miqat, jemaah akan melanjutkan perjalanan umroh menuju Mekkah. Bukan sekedar transisi perpindahan lokasi, ini merupakan fase penting dalam keseluruhan rangkaian ibadah. Sambil dalam keadaan berihram, jemaah umroh mulai menjaga diri dari segala hal-hal yang membatalkan. Di sinilah jamaah mulai menjaga lisan, memperbanyak lantunan talbiyah, serta menata kekhusyukan sebelum memasuki rangkaian inti di Masjidil Haram.

Yang Perlu Diperhatikan dalam Perjalanan

  • Perbanyak talbiyah selama perjalanan
  • Utamakan shalat wajib — bisa dilakukan dengan isyarat di kendaraan jika tidak memungkinkan berdiri
  • Jaga pakaian ihram agar tetap rapi dan sesuai syariat
  • Hindari seluruh larangan ihram untuk menjaga kekhusyukan

Mandi Sunnah dan Doa Masuk Kota Mekkah

Disunnahkan buat jemah untuk mensucikan diri dengan mandi sebelum masuk kota Mekkah, misalnya di hotel atau rest area sebelum sampai. Jika tidak memungkinan, bisa berwudhu sebagai alternatif. Amalan ini menjadi bentuk kesiapan diri dan penghormatan kepada kota suci Mekkah. Sebelum memasuki kota, baca doa berikut:

اللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُكَ وَأَمْنُكَ، فَحَرِّمْ لَحْمِي وَدَمِي وَعَظْمِي عَلَى النَّارِ

Allahumma hadza haramuka wa amnuka, fa harrimlahmi wa dami wa ’azmi ’alan-nar, wa aminni min ’adzabika yawma tab’atsu ’ibadak

Artinya: “Ya Allah, ini adalah tanah haram-Mu dan negeri aman-Mu. Haramkanlah dagingku, darahku, dan tulangku dari api neraka, dan amankanlah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” — (Imam Nawawi, al-Adzkar [Beirut: Dar ibn Katsir, 2007 M], hlm. 183); (Imam Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar al-Fikr, 1995 M], hlm. 70)

Tahap 3: Memasuki Masjidil Haram — Momen Paling Bersejarah

Peta Denah lokasi Masjidil Haram

Peta denah lokasi Masjidil Haram.

Sampai pada momen yang paling ditunggu oleh jemaah, melihat Ka’bah secara langsung. Perasaan haru serta syukur bercampur jadi satu menghadirkan ketenangan hati yang tidak biasa. Ini bukan sekedar pemandangan. Ini merupakan jawaban dari kesabaran serta doa-doa lama yang telah kamu panjatkan.

Adab Memasuki Masjidil Haram

Ada sejumlah adab yang harus diperhatikan jemaah ketika akan memasuki masjidil haram. Beberapa adab yang bisa diamalkan, di antaranya:

Urutan Adab Detail
1 Berhenti di depan pintu dan berdoa Babussalam adalah pintu utama yang dianjurkan. Angkat tangan, berdoa sejenak.
2 Masuk dengan kaki kanan Sunnah masuk masjid dengan kaki kanan sambil membaca basmalah
3 Baca doa masuk masjid Baca doa khusus masuk Masjidil Haram (lihat di bawah)
4 Jalan menuju Ka’bah dengan tenang Jangan berlari atau tergesa-gesa — resapi setiap langkah
5 Hentikan talbiyah saat hendak memulai tawaf Di dalam masjid sebelum tawaf: boleh teruskan talbiyah

Doa Masuk Masjidil Haram

Sebelum masuk ke Masjidil Haram, terdapat doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW (HR. Muslim no. 591):

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَمَغْفِرَتِكَ وَأَدْخِلْنِي فِيهَا

Allahumma antassalam wa minkas-salam, fahayyina rabbana bissalam wa adkhilnal-jannata daras-salam, tabarakta wa ta’alaita ya dzal-jalali wal-ikram. Allahummaftah li abwaba rahmatika wa maghfiratika wa adkhilni fiha.

Artinya: “Ya Allah Engkau sumber keselamatan. Sambutlah kami dengan keselamatan dan masukkan kami ke dalam surga negeri keselamatan. Ya Allah bukakanlah bagiku pintu rahmat dan ampunan-Mu.” — (Imam Nawawi, al-Adzkar [Beirut: Dar ibn Katsir, 2007 M], hlm. 180)

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Humaid as-Sa’idi atau Abu Usaid as-Sa’idi, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Idzā dakhala aḥadukum al-masjid fal-yusallim ‘ala an-nabiyyi ﷺ, wal-yaqul: Allāhumma iftaḥ lī abwāba raḥmatik. Wa idzā kharaja fal-yaqul: Allāhumma innī as’aluka min faḍlik.

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka hendaklah ia bershalawat kepada Nabi ﷺ dan mengucapkan: ‘Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.’
Dan apabila ia keluar, hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu.’” — (Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim [Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, 1972 M], Juz 1, hlm. 494, no. 713.)

Doa Pertama Kali Melihat Ka’bah

Momen melihat Ka’bah pertama kali adalah salah satu waktu paling mustajab. Para ulama menganjurkan jemaah untuk berhenti sejenak sembari memanjatkan doa terbaik dengan penuh keikhlasan. Maka, berhentilah sejenak dan panjatkan doa terbaik dengan penuh keikhlasan:

اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا

Allahumma zid hadzal bayta tasyrifan wa ta’zhiman wa takriman wa mahabatan, wa zid man syarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifan wa takriman wa ta’zhiman wa birran.

Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, dan kehormatan pada Baitullah ini. Dan tambahkan pula kemuliaan bagi siapa saja yang memuliakan Ka’bah dari kalangan yang berhaji atau berumroh.” — (Imam Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar al-Fikr, 1995 M], hlm. 72); (Imam Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab [Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M], Juz 8, hlm. 36)

Ka’bah — kiblat umat Muslim sedunia dan pusat rangkaian ibadah umroh

Ka’bah — kiblat umat Muslim sedunia dan pusat rangkaian ibadah umroh.

Tak sedikit jemaah yang tak terbendung kesedihannya saat pertama kali melihat Ka’bah. Perasaan rindu dan haru tumpah dalam satu momen singkat. Biarkan perasaan itu mengalir, sebab itu menjadi panggilan hati yang akhirnya Allah izinkan untuk menjadi nyata.

Tahap 4: Tawaf — Mengelilingi Ka’bah 7 Putaran

Tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah. Ini rukun utama umroh yang tidak dapat ditinggalkan — jika tertinggal, umroh tidak sah. Setiap langkah yang diambil selama tawaf bernilai ibadah, sehingga jamaah dianjurkan untuk menjaga kekhusyukan serta memperbanyak doa dan dzikir.

Rangkaian ibadah ini memiliki keutamaan besar bagi setiap Muslim karena dilakukan di tempat paling mulia di muka bumi. Tidak ada tempat lain yang selalu dipenuhi aktivitas ibadah selama 24 jam selain Masjidil Haram. Siang dan malam, Ka’bah senantiasa dikelilingi oleh jamaah untuk bertawaf, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Syarat Sah Tawaf

Sebelum memulai rangkaian tawaf, terdapat beberapa syarat sah yang harus terpenuhi, ialah sebagai berikut:

No Syarat Cara Memastikan Jika Tidak Terpenuhi
1 Suci dari hadats kecil (wudhu) Wudhu sebelum mulai tawaf, jika batal ditengah; segera ambil wudhu dan mulai dari putaran terakhir yang sah Tawaf tidak sah — wudhu ulang, ulangi putaran
2 Menutup aurat Periksa pakaian sebelum mulai; aurat tertutup, pastikan kain ihram tidak jatuh Tawaf tidak sah
3 Ka’bah di sebelah kiri Mulai dari sisi Hajar Aswad, Ka’bah selalu di kiri Putaran tidak dihitung
4 Di dalam batas Masjidil Haram Tawaf di lantai dasar, 1, 2, atau atap — semua sah Tawaf di luar gedung masjid tidak sah
5 Dimulai sejajar Hajar Aswad Berdiri sejajar garis coklat/hijau di lantai (tanda posisi Hajar Aswad) Putaran tidak dimulai dengan benar
6 7 putaran penuh Gunakan tasbih digital untuk menghitung Kurang dari 7 — tawaf tidak sah

Persiapan Sebelum Tawaf

Supaya rangkaian tawaf dapat dilakukan sesuai sunnah dan lebih tertib, terdapat beberapa persiapan yang perlu diperhatikan.

  • Idhtiba (khusus pria): Pindahkan ujung kain rida dari bahu kiri ke bawah ketiak kanan agar bahu kanan terbuka. Dilakukan selama tawaf saja, setelah selesai dikembalikan seperti semula.
  • Hentikan talbiyah saat hendak memulai tawaf, digantikan dengan dzikir dan doa selama pelaksanaan tawaf berlangsung.

Urutan Tata Cara Tawaf Step by Step

Pelaksanaan tawaf tidak boleh sembarang sebab dapat membatalkan umroh apabila tidak sesuai tuntunan. Simak urutan tata cara tawaf berikut supaya tidak terjadi kesalahan selama beribadah.

  1. Berdiri sejajar Hajar Aswad — angkat tangan kanan sejajar bahu sambil mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ

Bismillahi, Allahu akbar

Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.” — Dibaca setiap kali melewati Hajar Aswad.

  1. Istilam Hajar Aswad — cium langsung jika bisa (paling afdhol), sentuh dengan tangan lalu cium tangan, atau isyarah dari jauh jika terlalu padat. Semua cara ini sah dan sangat penting untuk menjaga kenyamanan ibadah dan tidak perlu mengejar keutamaan tapi dengan cara-cara terlarang, seperti menyakiti orang lain atau menarik-narik orang lain. Hal itu justru akan mendatangkan dosa bagi pelakunya.
  2. Mulai berjalan berlawanan arah jarum jam — Ka’bah selalu di sebelah kiri. Pria disunnahkan raml (lari kecil) pada 3 putaran pertama, wanita cukup berjalan biasa.
  3. Usap Rukun Yamani — saat melewati sudut Rukun Yamani, usap dengan tangan kanan sambil membaca Bismillahi Allahu Akbar. Jika terlalu padat, cukup lewati atau lambaikan tangan.
  4. Baca doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنؘيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil-akhirati hasanatan wa qina ’adzaban-nar

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.” — QS. Al-Baqarah: 201

  1. Selesaikan 7 putaran — setiap kali melewati Hajar Aswad, satu putaran dihitung selesai
Tentang doa per putaran: Tidak ada doa yang diwajibkan di setiap putaran tawaf. Rasulullah tidak menetapkan doa khusus per putaran.

Doa setiap putaran yang ada di dalam panduan haji atau panduan umroh merupakan rangkuman dari para ulama agar mempermudah para jemaah haji ataupun umroh. Jemaah umroh bisa membaca dzikir, shalawat, doa bebas, atau Al-Qur’an sesuai kekhusyukan masing-masing. Diperbolehkan juga berdoa dengan bahasa masing-masing.

Tips Tawaf di Kondisi Padat

Melaksanakan tawaf di tengah musim ramai bisa menjadi tantangan tersendiri. Beberapa tips praktis berikut dapat membuat kamu melakukan tawaf dengan nyaman di tengah keramaian.

Situasi Tips Praktis
Sangat padat (Ramadhan/peak season) Tawaf di lantai atas masjid — lebih longgar, putaran lebih panjang tapi sah dan setara pahalanya
Kondisi fisik melemah Boleh duduk istirahat di pinggir area tawaf, lanjutkan dari posisi Hajar Aswad
Jemaah lansia atau pengguna kursi roda Tawaf dengan kursi roda: sah. Ada jalur khusus di lantai dasar.
Batal wudhu di tengah tawaf Keluar ke area wudhu, wudhu ulang, kembali ke Hajar Aswad, lanjutkan putaran dari hitungan terakhir
Lupa hitungan putaran Ambil angka yang paling yakin (lebih sedikit lebih aman), lanjutkan dari sana
Terpisah dari rombongan Tetap tenang, hubungi muthawif via HP. Titik kumpul biasanya di pintu masuk yang sudah disepakati.

Jemaah melaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram dari atas

Ribuan jemaah melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah — dilihat dari atas lantai Masjidil Haram.

Tahap 5: Shalat di Maqam Ibrahim, Zamzam & Multazam

Setelah selesai melaksanakan tawaf dan sebelum menuju sa’i di Mas’a, ada 3 amalan sunnah penting yang sangat dianjurkan sebagai penyempurna tawaf.

Shalat 2 Rakaat di Maqam Ibrahim

Amalan pertama yang dianjurkan seusai tawaf adalah shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَاتَّخِذُوا مِنؘ مَقَامِ إِبؘرَاهِيمَ مُصَلًّى

Wattakhidzu min maqami ibrahima mushalla

Artinya: “Dan jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” — QS. Al-Baqarah: 125

Imam Nawawi menjelaskan hukum shalat sunnah tawaf sebanyak dua rakaat tersebut di dalam kitab Al-Idhah fi Manasik al-Hajj:

اذا فرغ من الطواف صلى ركعتي الطواف وهما سنة مؤكدة على الأصح وفي قول هما واجبتان

Idzā faragha minaṭ-ṭawāf ṣallā rak‘atay aṭ-ṭawāf, wa humā sunnatun mu’akkadatun ‘alā al-aṣaḥḥ, wa fī qawlin humā wājibatāni

Artinya: “Bila selesai tawaf, jamaah haji (umrah) hendaknya mengerjakan dua rakaat shalat sunnah tawaf. Hukum shalat tawaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan menurut pendapat yang palin sahih. Tetapi pendapat lain mengatakan, hukum shalat tawaf adalah wajib.” — (Imam Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar al-Fikr, 1995 M], hlm. 132)

Penting: Sholat sunnah 2 rakaat: rakaat 1 Al-Fatihah + Al-Kafirun, rakaat 2 Al-Fatihah + Al-Ikhlas.

Jika area Maqam Ibrahim terlalu padat, boleh juga sholat sunnah tawaf di belakang Hijr Ismail karena ada keutamaan tersendiri sholat di sana. Namun, jika tidak memungkinkan pada kedua area tersebut, maka boleh shalat di area mana saja selama masih di dalam Masjidil Haram. Hal tersebut tetap dihukumi sah.

Minum Air Zamzam dan Berdoa

Minum air zamzam disunnahkan dalam posisi berdiri menghadap Ka’bah sambil memanjatkan doa. Ini didasarkan pada hadits:

مَاءُ زَمؘزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Ma’u zamzama lima syuriba lahu

Artinya: “Air zamzam (menjadi) sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.” — (Ibn Majah, Sunan Ibn Majah [Riyadh: Dar al-Salam, 2000 M], no. 3062); (Imam Nawawi, al-Adzkar [Beirut: Dar ibn Katsir, 2007 M], hlm. 189)

Jemaah boleh meminum air zam-zam sebanyak yang diinginkan. Sebab bukan hanya menghilangkan haus, tetapi juga dipercaya juga membawa keberkahan dan kesembuhan atas izin Allah.

Berdoa di Multazam

Multazam adalah area antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah — salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa. Dekatkan diri ke Ka’bah hingga dada, pipi, dan tangan menempel ke dinding. Ini waktu terbaik untuk memohon doa kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga. Jika sulit mendekat, cukup berdoa menghadap Ka’bah dari kejauhan.

Tahap 6: Sa’i — Menghidupkan Kembali Perjuangan Siti Hajar

Sa’i adalah ibadah berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan penghormatan atas keteguhan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk Nabi Ismail AS — simbol bahwa setiap usaha yang sungguh-sungguh akan selalu diiringi pertolongan Allah. Dari peristiwa inilah bermula sejarah penting di Tanah Suci, termasuk hadirnya air zam-zam yang hingga kini menjadi salah satu keberkahan bagi jutaan jemaah.

Syarat Sah Sa’i

Berikut syarat-syarat sa’i yang perlu diperhatikan oleh setiap jemaah, antara lain:

No Syarat Detail
1 Dimulai dari Bukit Shafa Wajib mulai dari Shafa — jika mulai dari Marwah, putaran tersebut tidak dihitung
2 Diakhiri di Bukit Marwah Putaran ke-7 wajib berakhir di Marwah
3 7 perjalanan penuh Shafa→Marwah = 1, Marwah→Shafa = 2, dst. Putaran ke-7 berakhir di Marwah.
4 Dilakukan setelah tawaf Sa’i tidak boleh mendahului tawaf
5 Melewati seluruh jalur mas’a Harus berjalan hingga mencapai Shafa dan Marwah sepenuhnya
6 Suci dari hadats (menurut Syafi’i) Wudhu dianjurkan — mayoritas ulama mensyaratkan suci untuk sa’i

Urutan Tata Cara Sa’i Step by Step

Adapun untuk tata cara sa’i umroh yang dapat diikuti secara berurutan oleh jemaah, yakni:

Langkah 1 — Menuju Bukit Shafa
Setelah shalat sunnah tawaf, jemaah bisa langsung menuju bukit Shafa melalui jalur yang sudah ditandai. Kini area Bukit Shafa berupa undakan di dalam koridor Mas’a sehingga lebih mudah diakses.

Langkah 2 — Berdoa Saat Menuju Bukit Shafa atau di Atas Bukit Shafa
Saat menuju bukit Shafa atau saat sampai di atas bukit Shafa, baca ayat berikut sambil menghadap Ka’bah:

إِنَّ الصَّفَا وَالؘمَرؘوَةَ مِنؘ شَعَائِرِ اللَّهِ

Innas-sofa wal marwata min sya’a’irillah

Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syiar-syiar Allah.” — QS. Al-Baqarah: 158dibaca saat pertama kali naik ke Shafa

Kemudian berdiri menghadap ke arah Ka’bah sambil membaca takbir sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan dzikir:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحؘدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الؘمُلؘكُ وَلَهُ الؘحَمؘدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيؘءؓ قَدِيرٌ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir

Artinya: “Tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” — Dibaca 3x di puncak Shafa — (Imam Nawawi, al-Adzkar [Beirut: Dar ibn Katsir, 2007 M], hlm. 185)

Setelahnya jemaah dapat memohon doa apa saja dengan penuh keyakinan kepada Allah. Ini termasuk salah satu momen mustajab dalam rangkaian umroh.

Langkah 3 — Berjalan Menuju Marwah
Mulai berjalan menuju Bukit Marwah — ini dihitung putaran ke-1. Perbanyak dzikir, doa, atau shalawat. Pria: berlari kecil (raml) di setiap area lampu hijau (sunnah). Wanita: berjalan biasa di seluruh jalur.

Langkah 4 — Di Bukit Marwah
Saat tiba di bukit Marwah dan menghadap ke arah Ka’bah, baca dzikir yang sama seperti di Shafa. Satu putaran sa’i dianggap selesai.

Langkah 5 — Ulangi hingga Putaran ke-7
Untuk memudahkan jemaah dalam menghitung putaran saat sa’i, berikut panduan urutannya:

Putaran Dari Ke Keterangan
1 Shafa Marwah Dimulai di Shafa, berakhir di Marwah
2 Marwah Shafa Kembali ke Shafa
3 Shafa Marwah
4 Marwah Shafa
5 Shafa Marwah
6 Marwah Shafa
7 Shafa Marwah Putaran terakhir — wajib berakhir di MARWAH
Kesalahan umum: Banyak jemaah mengira satu bolak-balik adalah satu putaran. Yang benar: satu perjalanan (Shafa ke Marwah, atau Marwah ke Shafa) = satu putaran. Tujuh putaran berakhir di Bukit Marwah.

Ilustrasi Hitungan Sa'i

Ilustrasi hitungan sa’i.

Tahap 7: Tahallul — Tanda Selesainya Umroh

Tahallul secara harfiah berarti “dihalalkannya kembali”. Seluruh larangan ihram yang berlaku sejak miqat dinyatakan selesai. Kamu sudah diperbolehkan kembali melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang.

Tata Cara Tahallul: Pria vs Wanita

Tata cara pelaksanaan tahallul memiliki perbedaan mendasar antara jemaah pria dan wanita yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Pria Wanita
Yang dilakukan Mencukur atau memotong rambut kepala Memotong ujung rambut
Yang lebih utama Mencukur bersih (gundul/halq) — Rasulullah mendoakan 3x untuk yang mencukur bersih Memotong ujung rambut ±1 ruas jari (taqsir)
Minimal Memotong minimal 3 helai rambut Memotong minimal 3 helai rambut
Waktu Setelah sa’i selesai — tidak boleh sebelum sa’i Sama dengan pria
Tempat Di sekitar area Masjidil Haram — banyak tukang cukur tersedia Di hotel atau ruang privat

Doa Setelah Tahallul

Ada doa yang perlu dibaca jemaah seusai mencukur rambut yang berbunyi:

اللَّهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، فَاجؘعَلؘ لِي بِكُلِّ شَعؘرَةٍ نُورًا يَوؘمَ الؘقِيَامَةِ

Allahumma hadzihi nasiyati biyadik, faj’al li bikulli sya’ratin nuran yaumal qiyamah

Artinya: “Ya Allah, ubun-ubunku ada dalam genggaman-Mu. Jadikanlah bagiku di setiap helai rambut ini cahaya pada Hari Kiamat.”

Pada titik ini, seluruh rangkaian ibadah umroh dinyatakan sah dan selesai. Sebagai bentuk rasa syukur, laksanakan shalat sunnah 2 rakaat dan jaga adab selama berada di Tanah Suci hingga waktu kepulangan.

Panduan Khusus Tata Cara Umroh untuk Wanita

Ringkasan perbandingan umroh pria dan wanita

Ringkasan perbandingan umroh pria dan wanita.

Pelaksanaan umroh bagi wanita memiliki ketentuan tersendiri. Tujuannya untuk memberikan kemudahan juga kenyamanan selama berada di Tanah Suci. Berikut ringkasan lengkap perbedaan antara tata cara umroh pria dan wanita:

Tabel Perbandingan: Umroh Pria vs Wanita

Tahap Umroh Pria Wanita
Pakaian ihram 2 lembar kain putih tanpa jahitan (izar + rida). Kepala terbuka wajib. Pakaian biasa menutup aurat. Kepala tertutup jilbab. Wajah & telapak tangan terbuka.
Talbiyah Keras (terdengar orang sekitar) Pelan/lirih (cukup terdengar diri sendiri)
Tawaf Idhtiba’ (bahu kanan terbuka) + Raml (lari kecil 3 putaran pertama) Tidak idhtiba’. Tidak raml — jalan biasa seluruh 7 putaran.
Sa’i Lari kecil di zona lampu hijau Jalan biasa seluruh jalur — tidak lari di zona hijau
Tahallul Dianjurkan cukur bersih (halq), minimal 3 helai Cukup potong ujung rambut ±1 ruas jari (taqsir), minimal 3 helai
Saat haid/nifas Tidak berlaku Boleh berihram dan baca talbiyah. Tidak boleh tawaf. Tunggu suci.
Mahram Tidak diperlukan Tidak wajib (UU No. 14 Tahun 2025 + kebijakan Arab Saudi) — tapi sangat dianjurkan

Skenario Khusus Wanita yang Sering Terjadi

Sangat mungkin terjadi beberapa kondisi khusus yang sering terjadi pada jemaah wanita, di antaranya:

Skenario Yang Harus Dilakukan
Haid tiba-tiba di miqat sebelum ihram Tetap berihram dan niat. Tidak boleh tawaf. Tunggu suci di Mekkah — bisa beberapa hari. Konsultasikan dengan muthawif.
Haid saat sudah di tengah tawaf Hentikan tawaf, keluar area tawaf. Tunggu suci. Setelah suci: ulangi tawaf dari awal (7 putaran penuh).
Tawaf sudah selesai, haid sebelum sa’i Menurut Hanafi/Maliki: boleh sa’i meski haid. Menurut Syafi’i: tunggu suci dulu. Tanyakan kepada muthawif.
Kondisi fisik tidak kuat tawaf/sa’i mandiri Boleh menggunakan kursi roda — didorong mahram atau petugas masjid. Umroh tetap sah.
Jadwal pulang sebelum suci dari haid Boleh pulang tanpa tawaf wada’ — ada rukhsah khusus wanita haid berdasarkan hadits shahih.

Tips Khusus Wanita di Masjidil Haram

Butuh kesiapan ekstra untuk beribadah di tengah lautan jemaah, khususnya buat jemaah wanita. Berikut beberapa tips khusus yang dapat membantu:

  • Pilih waktu tawaf dan sa’i di luar jam shalat — area lebih longgar dan tidak berdesakan
  • Bawa pembalut cadangan meski tidak haid — perjalanan jauh bisa mempengaruhi siklus menstruasi
  • Tawaf di luar area inti (lebih jauh dari Ka’bah) untuk menghindari bersenggolan dengan pria asing
  • Jika tidak nyaman di kerumunan, tawaf di lantai atas atau rooftop — sah dan lebih nyaman
  • Pastikan jilbab tidak mudah lepas saat bergerak padat — gunakan jarum pentul di posisi strategis
  • Jangan ragu meminta bantuan muthawif jika ada kondisi khusus (haid di tengah umroh, fisik tidak kuat, dll.)

Ziarah di Madinah — Kota Cahaya Rasulullah

Berkunjung ke Madinah bukan bagian dari rukun umroh, namun sangat dianjurkan di dalam madzhab Syafi’i. Hal ini didasarakan pada beberapa hadits. Di antaranya:

HR. Bukhari no. 1189 & HR. Muslim no. 1397

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Lā tushaddu ar-riḥālu illā ilā thalāthati masājida: al-masjidi al-ḥarām, wa masjidī hādhā, wa al-masjidi al-aqṣā

Artinya: “Tidak dianjurkan melakukan perjalanan (ibadah khusus) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha.” — (Imam Bukhari, Muhammad bin Ismail Shahih al-Bukhari [Beirut: Dar Tawq an-Najah, 2001 M], Juz 2, hlm. 663, no. 1189); (Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim [Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, 1972 M], Juz 2, hlm. 1014, no. 1397.)

HR. Bukhari no. 1190 & HR. Muslim no. 1394

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Ṣalātun fī masjidī hādhā khayrun min alfi ṣalātin fīmā siwāhu

Artinya: “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya (selain Masjidil Haram).” — (Imam Bukhari, Muhammad bin Ismail Shahih al-Bukhari [Beirut: Dar Tawq an-Najah, 2001 M], Juz 2, hlm. 663, no. 1190); (Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim [Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, 1972 M], Juz 2, hlm. 1012, no. 1394.)

Oleh karenanya Imam Nawawi mengatakan:

ثُمَّ يَنْبَغِي أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلَى زِيَارَةِ قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ

Ṡumma yanbaghī an yatawajjaha ilā ziyārati qabri an-nabiyyi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam

Artinya: “Hendaknya (sangat dianjurkan) menuju ziarah ke makam Nabi.” — (Imam Nawawi, al-Idhah fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar al-Fikr, 1995 M], hlm. 84)

Atas dasar ini semua, mayoritas ulama menetapkan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW sebagai sunnah muakkadah, utamanya dari kalangan Syafi’iyah. Selain itu, ziarah merupakan sebuah ekspresi cinta (محبة) dan ittiba’ kepada Nabi Muhammad SAW dan ini juga merupakan praktik amalan yang telah dilakukan oleh para ulama salaf.

Madinah Dulu atau Mekkah Dulu?

Banyak calon jemaah yang merasa bingung sebaiknya memulai umroh dari Madinah atau langsung ke Mekkah. Kalau kamu salah satunya, berikut panduan rute perjalanan sekaligus kelebihan serta kekurangan dari masing-masingnya.

Urutan Kelebihan Kekurangan
Madinah dulu, baru Mekkah Ihram dari Bir Ali (miqat terdekat). Suasana ziarah lebih tenang sebelum ibadah inti umroh. Perlu kembali ke Madinah jika ingin ziarah tambahan setelah umroh selesai
Mekkah dulu, baru Madinah Umroh selesai lebih awal, bisa fokus ziarah Madinah dengan lebih santai Ihram harus dari miqat lain (bukan Bir Ali). Pastikan ihram dilakukan dari miqat yang benar.

Amalan Sunnah di Masjid Nabawi

Sedikitnya ada 3 amalan sunnah yang dapat dilakukan selama berada di Masjid Nabawi, di antaranya:

  • Shalat Arbain — 40 waktu shalat berturut-turut di Masjid Nabawi. Keutamaan program umroh Arbain.
  • Ziarah ke Raudhah — area “taman surga” di dalam Masjid Nabawi, salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa.
  • Ziarah ke Makam Rasulullah — sampaikan kerinduan dengan penuh adab dan ketenangan.
  • Ziarah ke Masjid Quba — shalat 2 rakaat di sini memiliki keutamaan seperti pahala umroh. (HR. Tirmidzi)

Makam Nabi Muhammad SAW di Raudhah Masjid Nabawi, kota Madinah

Makam Nabi Muhammad SAW di Raudhah Masjid Nabawi, kota Madinah.

Tips Menjaga Kekhusyukan: Kunci Meraih Umroh Mabrur

Nilai utama umroh bukan hanya tentang menyelesaikan seluruh rangkaian, namun juga bagaimana kesungguhan hati benar-benar ada di setial langkahnya. Kekhusyukan yang sempurna dapat bernilai umroh yang mabrur. Sebagai ikhtiar menuju umroh yang mabrur, kamu bisa mencoba beberapa cara berikut ini:

No Tips Detail Praktis
1 Hafal niat dan bacaan utama sebelum berangkat Minimal hafal: niat ihram, talbiyah, doa melihat Ka’bah, doa di Shafa. Tidak perlu buka buku di momen sakral.
2 Ikut manasik umroh sebelum berangkat Manasik yang baik membangun “peta mental” ibadah — sehingga di lapangan lebih tenang dan khusyuk
3 Kurangi foto di momen kunci Momen pertama melihat Ka’bah, saat berdoa di Multazam, saat minum zamzam — resapi dulu, foto kemudian
4 Jaga wudhu sepanjang mungkin Kondisi wudhu menjaga ketenangan jiwa. Di Masjidil Haram ada ribuan tempat wudhu yang tersebar.
5 Perbanyak shalawat Amalan paling mudah dengan pahala luar biasa — bisa dibaca kapan saja dan di mana saja
6 Bawa doa-doa orang tersayang Sebelum berangkat: kumpulkan doa dari orang tua, pasangan, saudara. Di Tanah Suci: bacakan doa mereka.
7 Tidur lebih awal untuk Subuh di Masjidil Haram Shalat Subuh di Masjidil Haram bernilai 100.000 kali — jangan sampai terlewat karena kelelahan
8 Jaga mulut dan sikap Tidak rafats, tidak fasik, tidak bertengkar — ini syarat mendapatkan umroh yang mabrur (HR. Bukhari)

FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang Tata Cara Umroh

QApakah boleh tawaf tanpa wudhu?

ATidak boleh. Tawaf mensyaratkan kesucian dari hadats kecil (wudhu). Tawaf tanpa wudhu tidak sah dan umroh pun tidak sah. Jika wudhu batal di tengah tawaf, segera ambil wudhu dan lanjutkan dari putaran terakhir yang sah.

QSa’i boleh dilakukan kapan? Bolehkah di waktu yang berbeda dari tawaf?

ASa’i harus dilakukan setelah tawaf — tidak boleh mendahului. Boleh ada jeda antara tawaf dan sa’i untuk shalat wajib atau istirahat singkat. Tapi tidak boleh menundanya terlalu lama tanpa alasan. Mayoritas ulama: sa’i harus di hari yang sama dengan tawaf.

QApakah tawaf di lantai 2 atau 3 pahalanya sama dengan di lantai 1?

AYa, tawaf di lantai manapun dalam batas Masjidil Haram sah dan sama pahalanya. Yang penting Ka’bah di sebelah kiri dan syarat-syarat tawaf lain terpenuhi.

QBolehkah jeda istirahat di tengah tawaf atau sa’i?

ATawaf: boleh istirahat sejenak di pinggir area tawaf, lalu lanjutkan dari posisi Hajar Aswad pada putaran yang belum selesai. Sa’i: boleh istirahat di tengah perjalanan, lalu lanjutkan dari tempat berhenti.

QApakah ada doa khusus yang harus dibaca di setiap putaran tawaf?

ATidak ada doa yang diwajibkan per putaran tawaf. Yang dianjurkan adalah dzikir, shalawat, doa bebas dalam bahasa apapun, atau membaca Al-Qur’an. Satu-satunya bacaan shahih untuk bagian tertentu adalah doa Rabbana (QS 2:201) antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

QApa yang harus dilakukan jika lupa sudah berapa putaran tawaf/sa’i?

AAmbil angka yang paling yakin, lalu lanjutkan dari sana. Contoh: yakin sudah minimal 4 putaran tapi tidak ingat 5 atau 6 — anggap 4 putaran dan tambahkan sisanya. Lebih aman mengambil angka lebih sedikit.

QBerapa lama waktu yang dibutuhkan untuk satu kali umroh?

ARitual umroh inti (ihram di miqat hingga tahallul) membutuhkan waktu 3–4 jam. Jika kondisi padat (Ramadhan atau peak season): bisa 5–7 jam. Perjalanan total dari bandara hingga selesai umroh pertama: biasanya 6–12 jam tergantung lokasi hotel dan kepadatan.

Setiap Langkah di Tanah Suci Adalah Ibadah

Setiap rangkaian umroh — dari ihram hingga tahallul — bukan sekadar tata cara ibadah, melainkan perjalanan yang sarat makna. Tata cara umroh lengkap di atas mencakup semua aspek penting agar ibadah lebih khusyuk dan sesuai syariat. Semoga setiap langkah yang dijalani membawa pada umroh yang mabrur.

Siap Berangkat Umroh Bersama Hana Tours?

Travel umroh resmi terdaftar Kemenag, berpengalaman memberangkatkan ribuan jemaah dengan bimbingan muthawif berpengalaman. Pendaftaran mudah, cepat, dan fleksibel sesuai budget.

Lihat Paket Umroh 2026
Konsultasi via WhatsApp

Penulis

Promo Umroh Hana Tours

Paket umroh gebyar promo milenial Maret 2026 Rp 24.999.000, durasi 9 hari dengan hotel bintang 3, penerbangan transit maskapai Indigo, bonus Museum Wahyu & Albaik.

Gebyar Promo Milenial ⭐3

Free: Museum Wahyu, Albaik, dll

Rp 24.999.000

Paket umroh awal Ramadhan 2026 Rp 29.999.000, durasi 9 hari dengan hotel bintang 4, penerbangan langsung, bonus 3x umroh, Ayam Albaik & Kereta Cepat Haramain.

Awal Ramadhan

Free: Kereta Cepat, Umroh 3x, dll

Rp 29.999.000

Paket umroh tengah Ramadhan 2026 Rp 31.999.000, durasi 9 hari dengan hotel bintang 4, penerbangan langsung, bonus 3x umroh, Ayam Albaik & Kereta Cepat Haramain.

Tengah Ramadhan

Free: Kereta Cepat, Ayam Albaik, dll

Rp 31.999.000

Paket umroh promo Syawal 2026 Rp 27.999.000, durasi 9 hari dengan hotel bintang 3, penerbangan transit, bonus Kereta Cepat Haramain, City Tour Thaif, hingga ayam Albaik.

Promo Syawal ⭐3

Free: Kereta Cepat, Tour Thaif, dll

Rp 27.999.000